Ringkasan Khotbah Ibadah Raya
Tanggal : 28 September 2025
Pembicara : Pdt. Bondan Abraham
Tema : Damai Sejahtera = Dewasa “in Action”
Link : https://www.youtube.com/watch?v=OA1fEjphvz8

(Luk 10:1-9) Untuk memiliki damai sejahtera kita harus melepas keinginan kita, mengusahakan damai sejahtera itu, dan seiring pertumbuhan kerohanian kita sebagai murid maka damai sejahtera Allah akan kita terima. Dari awal sebagai anak kita melepas keinginan, sebagai hamba dan sahabat kita mengusahakan damai sejahtera itu, dan setelah menjadi satu dengan Allah, damai sejahtera itu menjadi sejahtera kekal bagi kita. Sebelum menjadi satu dengan Allah dan menjadi sempurna, kita bisa memiliki damai sejahtera itu namun sifatnya tidak kekal, masih naik turun, karena di dalam dunia kita masih memiliki keinginan.

Di dalam pelajaran Soteriologi tentang keselamatan, mengajarkan bahwa keselamatan terdiri dari keselamatan di masa lampau, masa kini dan masa depan. Keselamatan di masa lampau sudah dikaruniakan Allah kepada semua orang yang menerima Yesus sebagai Juru Selamat. Keselamatan masa kini hingga masa depan diberikan saat hidup kita dipimpin oleh Roh Kudus.

(Yoh 14:27) Damai sejahtera sudah diberikan Allah di masa lampau. (Fil 4:7-8) Selama kita di dunia, hati dan pikiran kita dipelihara oleh damai sejahtera Allah yang melampaui segala akal. Allah kita adil, Ia tidak memaksakan kehendakNya. Untuk memperoleh damai sejahtera itu, Allah butuh kerjasama kita untuk mengambilnya dengan rela hati. Agar hati kita terpelihara oleh damai sejahtera itu, Tuhan memberikan caranya, yaitu dengan memikirkan segala yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji.

(Yer 29:7) Damai sejahtera selama kita di dunia harus kita usahakan, baik di masa kini sampai ke masa depan. Damai sejahtera di masa depan harus kita persiapkan. Untuk itu jadilah dewasa rohani. Anak-anak mengejar hal yang instan. Tapi orang dewasa mempersiapkan upah. (Ibrani 11) Musa rela meninggalkan masa kanak-kanaknya (hal yang instan), untuk mengejar upah di masa depan.

(Mat 7:24-27) Seorang dewasa mengusahakan upah di masa depan. Ia bersedia bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian. Untuk mengusahakan damai sejahtera di masa depan, kita harus melakukan Firman Tuhan. Walaupun menurut pandangan kita, Firman Tuhan tidak masuk akal. Seperti Nuh yang tetap membangun bahtera walaupun ia tidak tinggal di tepi laut, ia tetap melakukannya dengan setia dan Nuh akhirnya mendapat upah berupa pemeliharaan Allah. Seperti juga Abraham yang diperintahkan Allah untuk pergi ke negeri yang akan ditunjukan Allah dan ia taat.

Tuhan tidak mau kita menerima damai sejahtera di masa kini saja, tapi juga di masa depan. Damai sejahtera di masa depan hanya untuk mereka yang dewasa. Bila kita ingin memilikinya, usahakanlah dengan melakukan Firman Tuhan dengan taat dan jadilah dewasa.

Amin, Tuhan Yesus memberkati.