Ringkasan Khotbah Ibadah Raya
Tanggal : 26 Juli 2026
Pembicara : Pdt. Bondan Abraham
Link : https://www.youtube.com/watch?v=0T0_WXGmPLg
Tema : Korban vs Persembahan
Setiap pengorbanan merupakan persembahan. Namun tidak semua persembahan adalah pengorbanan. Persembahan lebih bersifat transaksional, diberikan setelah kita menerima sesuatu. Tapi korban merupakan pemberian yang tidak mengharapkan timbal balik. Di dalam hidup pengiringan kita dengan Tuhan juga berlaku hal yang sama (Rom 12:1).
Di dalam Imamat 1-5, kita belajar berbagai macam persembahan. Intinya ada dua jenis persembahan, yaitu persembahan yang menumpahkan darah dan yang tidak. Di dalam perjanjian lama, persembahan yang tidak menumpahkan darah adalah persembahan ucapan syukur. Sedangkan persembahan yang fungsinya untuk penebusan dosa, adalah persembahan dengan menumpahkan darah. Hal ini merupakan turunan dari peristiwa korban yang pertama, ketika manusia jatuh ke dalam dosa (Kej 2:17, Kej 3). Dari situ, Allah membuat ketentuan bahwa mati, identik dengan penumpahan darah. Persembahan yang menumpahkan darah berlaku sebagai pengganti dari maut yang diakibatkan dari dosa (Ima 17:11).
Apa yang dikerjakan Allah di perjanjian lama merupakan gambaran pengorbanan Tuhan Yesus yang dikorbankan, disempurnakan satu kali dan terakhir, sebagai penebus dosa manusia (Ibr 10:11-14). Pengorbanan yang dilakukan setiap tahun dalam perjanjian lama, adalah pengingat bahwa kita adalah manusia berdosa. Dengan pengorbanan Tuhan Yesus yang satu kali dan yang sempurna, kita memiliki mindset bahwa kita telah diampuni, sehingga kita dapat memandang Tuhan dan melakukan ibadah yang sejati, bukan dipenuhi oleh permintaan pengampunan berulang-ulang. Dengan mindset yang sama, saat kita memberikan persembahan, kita tidak memberikannya dengan bersifat transaksional, di mana kita memberikan persembahan dengan berharap Tuhan membalas persembahan kita dengan berkat.
Allah menghendaki persembahan yang hidup, yang menumpahkan darah namun tetap hidup, sebagai penebus dosa kita. Dosa membuat kita seharusnya sudah mati. (Kol 3:5) Penumpahan darah yang harus dilakukan adalah mematikan hawa nafsu kedagingan kita. Matikan manusia lama kita yang mesih melakukan dosa dan hal-hal kedagingan / hawa nafsu, sehingga yang tetap tinggal hidup adalah manusia baru yang tidak lagi melakukan dosa. Itulah persembahan kita yang hidup, yaitu mempersembahkan tubuh kita. Ibadah itulah ibadah yang sejati, yang berkenan bagi Allah.
Marilah kita mempersembahkan korban, bukan hanya persembahan.
Amin, Tuhan Yesus memberkati.